Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Musafir; Bukti Kepedulian Mahasiswa BABEL di Mesir


03 April 2008 merupakan tanggal bersejarah di kalangan mahasiswa Bangka Belitung di Mesir. Betapa tidak, di hari itu satu buletin baru muncul di tengah-tengah Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir). Musafir, ya Musafir! Buletin ini merupakan pengejawantahan dari bentuk kepedulian sosial mahasiswa Bangka Belitung di Mesir terhadap masyarakat Bangka Belitung di Indonesia. Dari sisi bahasa, Musafir diambil dari bahasa Arab yang artinya orang yang bepergian. Ini mengindikasikan bahwa mahasiswa Bangka Belitung di Mesir juga termasuk satu dari sekian banyak 'musafir' itu.

Musafir merupakan sebuah nama media yang berorientasi kepada Muhasabah, Silaturrahim, dan Berfikir. 3 unsur inilah yang melahirkan Musafir. Muhasabah berarti instrospeksi diri, pengenalan jati diri, dan mencari kekurangan diri. Dari sini akan memacu masing-masing individu untuk selalu meningkatkan kualitas diri agar mampu bergerak di tengah persaingan global. Silaturrahim berarti menjalin tali persaudaraan dan ukhuwah islamiyah kepada sesama hidup agar tercipta komunikasi yang sehat sehingga apa yang diinginkan bisa dicapai. Dari muhasabah dan silaturrahim akan muncul satu unsur penting lainnya yaitu berfikir. Berfikir di sini adalah pola berfikir positif yang nantinya akan menghasilkan solusi matang dan bisa diandalkan untuk merubah paradigma berfikir masyarakat sekarang. Selain itu pula, Musafir juga berorientasi kepada peningkatan dunia tulis-menulis mahasiswa Bangka Belitung yang berdomisili di Mesir.

Diharapkan buletin ini memberikan stimulan bagi mahasiswa Bangka Belitung di Mesir agar terus berkreasi di dunia tulis-menulis, dan mampu merubah pola hidup masyarakat Bangka Belitung di Indonesia. Sehingga nantinya, budaya tulis-menulis akan terus mengiringi dan menghiasi kehidupan mahasiswa, dan masyarakatpun akan merasakan hasilnya. Satu lagi, menulis adalah kebutuhan individu dan perangkat da'wah yang penting.

Selamat Berkarya!
Selamat Berjuang!
Selamat Berda'wah!

Selengkapnya...

Pesona Eksotika Alexandria

Tiap kali ujian di al-Azhar usai, para mahasiswa sibuk mencari kegiatan dan aktifitas untuk mengisi waktu kosong mereka, tak terkecuali Masisir. Berbagai macam kegiatan akan kita temui, mulai dari yang bersifat self development (pengembangan potensi diri) hingga yang hanya bersifat refreshing. Maklum, otak mahasiswa memang panas karena hampir sebulan penuh dipakai untuk berpikir keras. Oleh karenanya, ia sangat membutuhkan 'suplemen' untuk mengembalikan kondisi pada posisi normal.

Rekreasi menjadi pilihan utama sebagian mahasiswa Indonesia di Mesir dan tentunya banyak obyek wisata yang akan disinggahi mereka. Di Mesir sendiri banyak sekali obyek wisata yang tidak hanya sarat akan nilai sejarah, tetapi juga menggambarkan sisi kehidupan rakyat Mesir dahulu kala. Dan pastinya jika kita mengunjungi tempat-tempat tersebut, maka kita akan berdecak kagum karena keindahan panoramanya. Diantaranya, sebut saja piramida, patung sphinx, puncak bukit thursina, pantai sharm syeikh, Hurghada, 'uyun Musa dan Alexandria. Dan tentunya, tiap obyek wisata tadi memiliki nilai sejarah tersendiri yang tak ternilai harganya. Kali ini, penulis akan mengajak pembaca untuk jauh menelusuri satu dari sekian banyak obyek wisata yang ada di Mesir ini yaitu Alexandria. Dimana nantinya, kita akan mengetahui bahwasannya Alexandria juga memiliki nilai sejarah yang tinggi disamping ia juga memiliki keindahan panorama.

Alexandria atau dalam bahasa Arab Iskandariyah merupakan pelabuhan utama di Mesir dan ia juga merupakan kota terbesar kedua di negara tersebut, sekaligus ibu kota pemerintahan Iskandariyah yang terletak di pantai laut tengah. Kota ini berada di sebelah barat laut kota Kairo dan dihuni oleh sekitar 3.341.000 jiwa.


Pada awal sejarah, ketika menapakkan kakinya di daratan Pharos –sebuah perkampungan kecil nelayan kala itu- Alexander the Great (seorang penjelajah dunia) berdecak kagum karena keindahan alam dan panorama di sana. Iapun berniat untuk membangun sebuah kota impian –yang sudah ia pendam sejak lama- di kota Iskandariyah tersebut. Mimpi itupun menjadi nyata, ketika seorang ahli tata kota asal Yunani, Denokrates, menggarap rancangan kota itu. Dibangunlah penahan gelombang serta mercusuar setinggi 125 meter, konon mercusuar ini pernah terdaftar sebagai salah satu keajaiban dunia. Tetapi, ia runtuh pada masa selanjutnya dan sebagai gantinya dibangunlah sebuah benteng yang disebut Qait Bay Citadel. Segera setelah kota itu dibangun, populasi penduduk di sana meledak hingga mencapai 300.000-an jiwa selain budak dan para pendatang. Saat itu, sebagian besar penduduk terdiri dari bangsa Yunani, Yahudi, dan pribumi.


Didukung oleh letak Alexandria yang sangat strategis, ia menjadi pusat perdagangan antara Barat dan Timur. Armada laut pengangkut biji-bijian berlayar dari dan keluar Alexandria. Dan pelabuhan barat merupakan pusat perdagangan utama di sana sekaligus menjadi gudang untuk kapas, biji-bijian, gula, dan kain wol. Di sana pula pajak diwajibkan bagi kapal yang keluar masuk Mesir. Kegiatan ekspor impor Mesir, sebagian besar bahkan lebih dari 80 persen melewati pelabuhan tersebut. Sehingga, Alexandria saat itu dicatat oleh Atlas of Greek World sebagai pusat perdagangan, ilmu, dan budaya dunia di zaman kuno. Dan pada masa puncak kejayaannya, Alexandria kala itu berpenduduk sekitar 600.000 jiwa.
Selain memiliki nilai sejarah yang tak ternilai, Alexandria juga memiliki pesona keindahan panorama yang juga tak kalah menariknya. Berbagai macam obyek wisata dapat kita jumpai di sana. Sebut saja beberapa diantaranya, benteng Qait Bay, taman Muntazah, perpustakaan Alexandria dll.

Benteng Qait Bay (Qait Bay Citadel) adalah sebuah benteng kecil yang menjorok ke arah laut. Ia terletak di sebelah utara perpustakaan Alexandria. Benteng yang dibangun oleh al-Ashraf Saif al-Din Qait Bay pada tahun 1479 M ini merupakan sebuah bangunan yang didirikan di atas reruntuhan mercusuar Pharos. Saat itu, mercusuar ini mempunyai tinggi 125 meter serta 300 kamar bawah tanah yang diperuntukkan bagi para pekerja. Namun sekarang, yang tersisa dari mercusuar ini hanya bisa kita lihat di bagian pondasi benteng Qait Bay.


Keindahan kota Alexandria juga bisa kita temui di taman Muntazah (Montazah Garden). Taman ini merupakan sebuah area seluas 115 yard yang dikelilingi oleh tembok besar yang memanjang dari selatan, timur dan barat serta pantai utara. Area ini dibangun oleh Raja Abbas II dari tahun 1892. Di dalam area kompleks ini ada sebuah istana besar yang dibangunnya, namanya Salamlek. Juga ada satu buah istana lainnya di dalam kompleks ini, namanya Haramlek. Istana tersebut dibangun oleh Raja Fuad pada tahun 1932. Area seluas 113 yard ini tidak hanya berisi istana-istana saja, namun juga terdapat taman luas yang bisa kita nikmati kala kita melancong ke Alexandria.


Selain dua tempat wisata tadi, kita juga bisa berkunjung ke perpustakaan Alexandria. Di samping mencari bahan-bahan bacaan yang kita perlukan, kita juga bisa menikmati aroma sejarah yang dikandung oleh perpustakaan ini. Hanya dengan 2 pound Mesir saja kita bisa menikmati seluruh isi yang ada di dalam perpustakaan ini. Perpustakaan Alexandria yang diberi nama Bibliotheca Alexandria ini mulai dibuka untuk umum pada bulan Oktober 2002 yang lalu. Awalnya, perpustakaan ini didirikan di masa pemerintahan Ptolemeus II pada awal abad ketiga sebelum masehi. Menurut sejarah, saat itu perpustakaan ini memiliki tujuh ratus ribu gulungan papyrus. Karena, para penguasa Mesir saat itu begitu semangat untuk menambah koleksi mereka. Kini, perpustakaan ini memiliki kurang lebih empat ratus ribu buku, serta ditambah dengan sistem komputer modern yang memungkinkan pengunjung mengakses koleksi perpustakaan lain. Namun, untuk bisa menggunakan fasilitas komputer ini, kita harus rela mengeluarkan beberapa pound lagi.


Masih banyak yang ditawarkan Alexandria untuk dikunjungi para wisatawan dan pelancong. Jika kita ke arah selatan dari perpustakaan Alexandria kurang lebih satu jam setengah perjalanan, kita akan menemukan sebuah makam dan masjid Nabi Daniel. Tak ketinggalan ada pula sebuah masjid indah yang bernama masjid Abu al-Abbas al-Mursi. Masjid yang memiliki menara yang menjulang tinggi dan empat kubah ini merupakan sebuah karya masterpiece Islam yang terkenal. Konon, empat kubah tersebut disinyalir sebagai yang terbesar di Alexandria.


Biaya perjalanan 50 hingga 60 pound Mesir terasa tidak berarti apa-apa bila kita kita mengunjungi Alexandria. Karena kota ini telah menyuguhkan banyak keindahan panorama bagi pengunjungnya. Belum lagi ditambah indahnya deburan ombak di pinggiran pantainya, hamparan biru langitnya, kebersihan dan keteraturan setiap sudut kotanya. Ufh, rasanya rugi jika kita belum sempat mengunjunginya. Wallahu A'lam. [nerazzura]





Selengkapnya...

Imam Syafi'i

Sejarah Singkat Sang Pembela Sunnah

A. Kelahiran dan Nasab Imam Syafi’i

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau yang lebih dikenal dengan Imam Syafi’i. Beliau dilahirkan di Ghaza (sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir, tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota ‘Asqalan sekitar dua farsakh) pada hari Jum’at siang, akhir Bulan Rajab tahun 150 H. Nasab beliau secara lengkap adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah SAW karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Ayah beliau yang bernama Idris termasuk orang yang tidak mempunyai apa-apa, ia tinggal di Kota Tibalah (suatu daerah di wilayah Tihamah, jalan menuju Yaman) kemudian pindah ke Kota ‘Asqalan hingga wafat di sana. Sedangkan nama Syafi’i, diambil dari nama kakek dari kakek beliau yang bernama Syafi’, yang mana beliau termasuk sahabat Rasulullah SAW. Para sejarawan dan ulama nasab serta ahli hadits sepakat bahwa Imam Syafi’I berasal dari keturunan arab murni. Bahkan Imam Bukhari dan Muslim telah memberikan kesaksian mereka akan kebenaran nasab beliau dan ketersambungannya dengan nasab Rasulullah SAW. Kesaksian ini membantah akan pernyataan sebagian kelompok dari Malikiyyah dan Hanafiyyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i bukan asli keturunan Quraisy secara nasab, melainkan hanya keturunan secara Wala’ saja.

Sedangkan ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya, ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Fathimah binti Abdillah dan masih keturunan Ali bin Abi Thalib. Adapula yang mengatakan bahwa ibu beliau berasal dari kabilah Azadiyah yang bergelar Ummu Habibah. Namun demikian, Imam Nawawi menegaskan bahwa ia termasuk wanita ahli ibadah dan paham tentang agamanya serta pandai dalam mengambil suatu istinbath.

B. Masa Pertumbuhan Imam Syafi’i

Semenjak kecil, Imam Syafi’i hidup dengan rasa keingintahuannya terhadap ilmu agama. Ketika baru berumur dua tahun, beliau diajak pergi menuju Mekkah oleh ibunya. Sesampainya di Mekkah, beliau melihat Ka’bah dan telah berkumpul di sekelilingnya beberapa ulama fiqih, ahli hadits, dan beberapa pemikir pada masa itu. Di sana, beliau diserahkan oleh sang ibu kepada seorang guru untuk belajar menuntut ilmu. Sang gurupun menerima beliau dengan senang walaupun ia tidak diberi imbalan sepeserpun sebagai upah mengajar, karena ia tahu tingkat kepintaran dan pemahaman beliau yang cepat. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau mampu menghapal al-Quran ketika berumur tujuh tahun, dan dapat membaca serta menghapal semua isi kitab al-Muwaththo’ karangan Imam Malik pada umur dua belas tahun, padahal ketika itu beliau belum pernah bertemu Imam Malik secara langsung, dan ketika berumur lima belas tahun, beliau sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh guru beliau Muslim bin Khalid az-Zanji. Beliau juga sering menghadiri halaqoh ilmiyah dan bertemu dengan para ulama untuk mempelajari beberapa masalah agama. Beliau menulis semua apa yang didengarnya di atas tulang-tulang yang bila sudah penuh dan banyak, dimasukkan ke dalam karung.

Pada awal mula beliau belajar, beliau sangat menyukai ilmu bahasa seperti Balaghah dan sya’ir, sehingga beliau hafal sya’ir-sya’ir suku Hudzail. Bahkan, beliau sempat berinteraksi dengan mereka selama 10 hingga 20 tahun. Banyak bait-bait sya’ir yang beliau hafal dari orang-orang suku Hudzail selama berinteraksi bersama mereka. Kapasitas keilmuan beliau dalam bahasa ‘Arab juga tidak dapat diragukan lagi, bahkan seorang imam bahasa ‘Arab, al-Ashmu’i mengakui hal tersebut dan mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepada beliau. Dalam ilmu hadits, beliau belajar dengan Imam Malik dengan membaca langsung kitab al-Muwaththo` dari hafalannya sehingga membuat sang imam terkagum-kagum. Di samping itu, beliau juga belajar berbagai disiplin ilmu sehingga memiliki guru yang banyak.

C. Karya-karya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i hidup tidak kurang dari setengah abad, namun beliau sangat kaya akan karya-karya beliau yang sampai saat ini masih bermanfaat bagi umat manusia. Beliau tidak berdiam di satu tempat saja, tetapi selalu bepergian untuk menggali ilmu dari para ulama terdahulu. Ketika berbicara tentang karya beliau, Ibnu Zaulaq menyatakan bahwa karya beliau mencapai dua ratus buah. Imam al-Marwazy menambahkan, “Imam Syafi’I mengarang lebih dari 113 kitab yang terdiri dari kitab tafsir, fiqih, sastra dll.”

Namun, dari sekian banyak karya beliau, Kitab al-Umm sangat dikenal banyak orang, terlebih oleh para pengikut ajaran beliau. Kitab ini adalah sebuah ensiklopedia fiqih islam yang mencakup ajaran-ajaran mazhab Syafi’i. Beliau mengarang kitab ini ketika berdiam di Mesir setelah mengadakan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu. Kitab ini juga mencakup pemikiran-pemikiran beliau semasa hidup. Dalam perumusan kitab ini, Imam Syafi’i mengambil cara yang dipakai oleh Abu Hanifah. Abu Hanifah memulai kitabnya dengan bab Thaharah, begitu juga dengan Imam Syafi’i di Kitab al-Umm.

D. Sakit dan Wafatnya Imam Syafi’i

Kesibukan Imam Syafi’i dalam berda’wah membuat beliau menderita penyakit wasir yang selalu mengeluarkan darah. Hal ini diderita beliau selama setahun. Dan pada akhirnya beliau wafat pada malam Jum’at setelah shalat Isya’, hari terakhir bulan Rajab tahun 204 H dalam usia 54 tahun. Hingga kini makam beliau di daerah Sayyidah ‘Aisyah Mesir selalu ramai dikunjungi para peziarah dari dalam dan luar kota, khususnya pada hari Jum’at. Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima segala amalan-amalannya semasa hidup serta memberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Amien[nerameazza]

Kairo, 7 Juli 2007

Selengkapnya...

Jejak Kata


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

INDONESIA BLOG DIRECTORY