Abu Yusuf Ya'qub Al-Kindi

(Filosof Muslim Pertama)


Sejarah telah mencatat, bahwa orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophists (500-400 SM) adalah Socrates (469-399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427-457 SM). Lalu diteruskan kembali oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384-322 SM). Setelah zaman Aristoteles usai, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus para filosof terdahulu hingga lahirlah sosok filosof muslim pertama pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyyah (132-656 H).

Beliau adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq bin al-Shabbah bin Imran bin Mubin al-Asy'ats bin Qais al-Kindi, atau lebih populer dengan sebutan al-Kindi. Beliau lahir di Kufah sekitar 185 H (801 M) dari keluarga berada dan terpelajar. Kakek buyutnya yang bernama al-Asy'ats bin Qais adalah salah seorang sahabat Nabi yang gugur bersama Sa'ad bin Abi Waqash dalam sebuah peperangan antara kaum muslimin dengan Persia di Irak. Sedangkan ayahnya, Ishaq bin al-Shabbah adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan al-Mahdi (775-785 M) dan al-Rasyid (786-809 M). Walaupun sang Gubernur sibuk dengan kegiatan-kegiatan politiknya, ia tetap memberikan perhatian penuh terhadap pendidikan putra tersayangnya, dan dengan kekayaan yang dimiliknya ia memberikan fasilitas dan sekolah yang terbaik bagi putranya. Al-Kindi memulai perjalanan intelektualnya dari tanah kelahirannya sendiri yaitu Kufah, kemudian melanjutkan pendidikannya ke kota Bashrah, yang pada saat itu merupakan pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan tempat utama gerakan pemikiran dan filsafat. Di Bashrah ia mempelajari ilmu-ilmu keagamaan, matematika dan filsafat. Tetapi tampaknya beliau begitu tertarik kepada filsafat dan ilmu pengetahuan, sehingga setelah ia pindah ke Baghdad, beliau mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika, astronomi, ilmu mantiq, seni musik hingga filsafat.

Corak dan bentuk filsafat al-Kindi tidak banyak diketahui karena buku-bukunya tentang filsafat banyak yang hilang. Baru pada zaman belakangan, para peminat filsafat menemukan kurang lebih 20 risalah al-Kindi dalam tulisan tangan. Mereka yang berminat besar menelaah filsafat Islam, baik kaum orientalis barat maupun orang-orang Arab sendiri, telah menerbitkan risalah-risalah tersebut. Dengan demikian, orang mudah menemukan kejelasan mengenai posisi dan paham al-Kindi dalam filsafatnya. Menurut al-Kindi, filsafat adalah pengetahuan kepada yang benar (knowledge of truth). Al-Quran yang membawa argumen-argumen yang lebih meyakinkan dan benar tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan filsafat. Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi tujuan dari keduanya. Dengan demikian, menurut al-Kindi, orang yang menolak filsafat berarti mengingkari kebenaran. Beliau mengibaratkan orang yang mengingkari kebenaran tersebut tidak jauh berbeda dengan orang yang memperdagangkan agama, dan orang itu pada hakekatnya tidak lagi beragama karena ia telah menjual agamanya. Pada beberapa hal, al-Kindi sependapat dengan filosof terdahulunya seperti Plato dan Arisoteles. Namun, dalam hal-hal tertentu, al-Kindi mempunyai pandangannya sendiri.

Para sejarawan sepakat untuk menempatkan al-Kindi sebagai seorang muslim pertama yang mempelajari filsafat. Selain seorang filosof, al-Kindi juga dikenal juga sebagai penerjemah terbaik di masanya. Sepeninggal al-Kindi, muncullah filosof-filosof muslim kenamaan yang terus mengembangkan filsafat. Di antara mereka adalah al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Iqbal.Wallahu A'lam. [nerazzura]

Selengkapnya...

Menelusuri Paham Sufisme Sesat

(Sebuah Resensi Dari Buku Naqdhu al-Sufiah)

Nabi Muhammad SAW datang membawa risalah Tuhan yang termaktub dalam kitab suci al-Qur'an. Kesemuanya itulah inti ajaran agama Islam. Islam sendiri datang sebagai penerang bagi seluruh makhluk Tuhan dengan membawa satu tujuan komprehensif yaitu rahmatan lil 'alamin. Maka Nabi Muhammad SAW menelurkan manhaj dan konsep-konsep bagi ummatnya untuk menggapai sa'âdatu dâraini (kebahagiaan dunia dan akhirat), yang kesemuanya itu termaktub dalam sunnahnya.

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, muncullah manhaj-manhaj baru yang kebanyakan darinya menyimpang dari inti ajaran Islam. Al-Qur'an menyebutnya dengan al-subul (jalan-jalan). Manhaj-manhaj tersebut dikatakan menyimpang karena ia dibawa oleh sebagian orang yang memasukkan sesuatu yang keluar bahkan merusak ajaran Islam ke dalam ajaran tersebut, walaupun niat awal mereka untuk islah.

Satu dari sekian banyak manhaj baru itu adalah tasawuf atau sufisme. Namun, perlu diketahui bahwa tasawuf atau sufisme sendiri ada yang baik dan buruk. Yang pertama mengajak pengikutnya untuk selalu bermuhasabah dan mengingat Allah Swt, sementara yang kedua adalah sebaliknya yaitu sesat bahkan menyesatkan. Kelompok ini keluar dari ajaran Islam karena paham-paham yang diusung para pengikutnya menyimpang dari Islam, agama yang dibawa oleh nabi akhir zaman. Paham-paham apa saja yang dibawa pengikut kelompok ini sehingga disebut menyimpang? Lalu mengapa paham-paham tersebut dikatakan menyimpang dari ajaran Islam?

Adalah sebuah buku yang berjudul "Naqdhu al-Sûfiah" yang akan menjawab semua pertanyaan di atas. Buku yang dikarang oleh Amir Hasan Amir ini mengajak kita untuk menelusuri seluk beluk tasawuf yang menyesatkan tadi, sehingga pada akhirnya kita akan mengetahui dan mengerti betapa tasawuf ternyata juga ada yang menjerumuskan.

Pada awal bab, buku setebal 446 halaman ini menjabarkan secara global tentang tarikh pertumbuhan paham tasawuf yang kemudian disusul dengan pembahasan tingkatan-tingkatan yang harus dilalui oleh tiap sufi. Seorang sufi harus meniti tiap tingkatan tersebut mulai dari al-murid, al-naqieb, al-khalifah, khalifatul khulafa', al-nâib, nâib 'amm lit thariqah, wakilun lit thariqah, dan tingkatan yang tertinggi yaitu syaikh al-thariqah. Tiap-tiap tingkatan tadi mempunyai tugas dan kewajibannya masing-masing yang mana itu semua harus dikerjakan oleh tiap sufi. Akhir bab pertama ini menjelaskan macam-macam thariqah sufiah yang ada dalam agama Islam saat ini. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa ummat Islam Indonesia juga banyak yang mengikuti aliran tasawuf yang sering disebut dengan thariqah. Berbagai macam thariqah tersebar luas di Indonesia, mulai dari thariqah naqsyabandiyah hingga tijaniyyah ada di sana.

Kemudian dengan bukunya, Amir Hasan Amir mengajak kita untuk menelusuri asal usul para ulama sufi, mulai dari Abdul Wahâb al-Sya'râni yang wafat pada tahun 973 H hingga Abu al-Husein al-Nûri. Disebutkan dalam buku ini 45 ulama sufi, karena pada dasarnya tiap thariqah sufiah memiliki mursyid dan pendiri sendiri serta kitab pegangan yang nantinya dijadikan pedoman bagi tiap pengikut thariqah tersebut. Ini semua akan kita temukan pada bab kedua dari buku ini.

Setelah dua bab muqaddimah tadi, barulah penulis buku ini mengajak kita untuk turut serta dalam menyelami dan mendalami paham-paham aliran sufisme secara eksplisit yang dianggapnya sesat. Ia memulainya dengan pembagian ilmu dalam sufisme. Ternyata ilmu di dalam sufisme terbagi menjadi dua, 'ilmu zâhir dan ilmu bathin. Yang pertama berkenaan dengan ilmu syari'ah dan ia dimiliki oleh para ulama biasa yang bukan sufi, sementara yang kedua berkenaan dengan ilmu laduni dan ia dimiliki oleh mereka para ulama sufi. Orang-orang sufi mengklaim bahwasannya mursyid atau syaikh thariqah mereka memiliki ilmu bathin yang tidak dimiliki oleh orang-orang awam biasa.

Kemudian dijelaskan pula tentang karamah yang ada dalam sufisme. Karamah ialah suatu kelebihan yang diberikan Allah Swt kepada hambaNya yang shâlih. Macam-macamnyapun banyak seperti menghidupkan kembali orang-orang yang telah meninggal dunia, berbicara kepada hewan, berjalan di atas air dan lain sebagainya. Karamah memang ada dan ia hanya untuk hamba Allah Swt yang shâlih, namun mereka (orang-orang sufi) menganggap bahwasannya karamah yang dimiliki oleh para ulama sufi adalah sama dengan mu'jizat yang diberikan Allah Swt untuk para nabi. Inilah satu dari sekian banyak aqidah yang melenceng dari Islam. Penulis buku ini berusaha untuk meluruskan paham tersebut. Ia menjelaskan bahwa karamah tidak seperti mu'jizat dan tidak pula menyerupainya.

Selanjutnya dijelaskan pula mengenai adanya syirik atas Allah Swt di dalam sufisme. Pertama tentang aqidah wihdatul wujud yang diusung sebagian ulama sufi. Paham wihdatul wujud beranggapan bahwasannya setiap makhluk yang ada di atas bumi ini mulai dari hewan, tumbuh-tumbuhan, benda mati, malaikat dan jin adalah satu senyawa yaitu Allah Swt. Maka, semua yang ada di alam semesta adalah Allah Swt. Paham ini dianggap syirik atas Allah Swt karena ia menjadikan seluruh makhluk sebagai tuhan. Sehingga nantinya bisa diambil kesimpulan yaitu menghalalkan beribadah kepada selain Allah Swt karena pada hakikatnya ia juga menyembah Allah Swt. Inilah paham yang diusung sebagian ulama sufi seperti al-Halâj dan Syeikh Siti Jenar di Indonesia yang pada akhirnya ia harus dipenggal oleh Walisongo karena bersikeras mempertahankan keyakinannya itu. Penulis buku inipun memberikan dalil-dalil yang berkenaan dengan paham ini. Selain wihdatul wujud ada pula syirik yang lainnya yang dipaparkan dalam buku ini seperti tawassul kepada makam aulia' dan ulama shâlih, padahal Islam telah mengajarkan ummatnya adab dan tata cara ziarah kubur.

Masih banyak yang dijelaskan Amir Hasan Amir dalam bukunya ini, sehingga membuat kita kian tertarik untuk terus menggali semua isi buku tersebut. Buku ini sangat cocok sekali bagi mahasiswa terutama mereka yang bergelut di bidang aqidah. Namun, buku ini juga bisa menambah koleksi khazanah ilmu aqidah untuk mahasiswa lainnya dan tidak ada ruginya jika kita juga ikut membacanya.[nerazzura]

Selengkapnya...

Muak

Bangsat...
Semuanya terlaknat

Sialan...
Aku diremehkan

Aku sudah muak
Aku telah terjebak
Oleh kecantikanmu
dan rayuanmu

Sudahlah...
Lupakan aku
Aku juga tak mau
terjatuh ke lubangmu

Kaupun pasti tau
Kenapa diriku berbuat itu
Kenapa pula kau menghindariku
Kau malu?

Aku tak akan lagi
Mengejar tuk kedua kali
Biarkan aku berlari
Biarkan aku sendiri

Mungkin ini akan menjadi
jalan terbaik bagi diriku sendiri
*






Memarahi diri sendiri
Mungkin untuk berkaca lagi
Kairo, Mid Night, 180208.

Selengkapnya...

Jejak Kata


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

INDONESIA BLOG DIRECTORY