Tersenyumlah!


Dalam kehidupannya, manusia selalu dihadapi berbagai macam masalah yang takkan pernah ada titik akhirnya. Berbagai macam masalah datang silih berganti. Satu masalah selesai, maka akan datang kepadanya masalah yang baru. Ada masalah yang mudah dipecahkan dan ada pula masalah yang sulit dipecahkan. Keluh kesah selalu menghinggapi perasaan, pusing bahkan stres pasti dirasakan. Tak ayal merekapun banyak yang mengambil jalan pintas untuk sebuah penyelesaian yang tak jelas. Sehingga pada akhirnya, mengakhiri hidup adalah solusi dan jalan terakhir yang dianggap pas.

Manusia seharusnya sadar, betapa ia adalah makhluk tuhan yang diberikan akal pikiran yang semestinya digunakan untuk memecahkan semua permasalahan yang ia rasakan. Bukannya malah menghindar dari kenyataan. Tuhan sendiri tidak akan meninggalkan hamba-hambaNya dalam keadaan mengenaskan dan tertekan. Ia pasti akan mencerahkan semua akal pikiran jika manusia menggunakannya dengan kejernihan hati. Semuanya pasti akan kembali ke diri masing-masing.

Satu fakta yang terjadi dapat kita temui di negeri kita sendiri, Indonesia. Dimana seorang pedagang gorengan harus mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Dalam hukum kausalitas (sebab-akibat), setiap ada akibat, pasti ada sebab. Kasus bunuh diri yang dilakukan oleh pedagang gorengan tadi adalah sebuah akibat yang pastinya ada sebab. Lalu apa yang menyebabkannya? Adalah kenaikan harga kedelai yang melambung tinggi saat itu. Lalu mengapa si pedagang tadi memilih jalan pintas seperti yang telah disebutkan di atas? Tak lain karena ia tidak menggunakan akal pikirannya untuk menelurkan sebuah solusi tepat untuk menyelesaikannya. Atau bahkan ia menggunakannya tetapi tidak dengan kejernihan hati. Hatinya mungkin telah terkontaminasi dengan pikiran-pikiran kotor, sehingga pada akhirnya ia malah memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Hal ini akan terus terjadi jika manusia tidak lagi berpikir jernih. Sungguh naif, seorang manusia harus bunuh diri hanya karena harga kedelai yang melambung tinggi. Namun, jika kita melihat kejadian di atas dari segi psikologis, mungkin kita akan mendapatkan penyebab yang lain. Mungkin saja ia dalam keadaan tertekan pada saat itu karena tidak mampu untuk membeli bahan pokok yang menjadi sumber kehidupannya. Semestinya ini bisa diatasi apabila orang-orang yang ada di sekitarnya bisa mendekati dengan terapi psikologis.

Islam datang dengan membawa solusi tepat. Ia membawa ajaran-ajarannya yang komprehensif, yang menyentuh semua aspek kehidupan manusia. Ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi, karena ini telah terbukti selama lebih dari jutaan tahun yang lalu. Islam datang dengan satu misi yaitu rahmatan lil 'alamin, misi simple yang mampu membawa jutaan manusia ke dunia mereka yang lebih tertata kehidupannya dari sebelumnya yang hanya diwarnai oleh kebodohan semata. Islam sendiri telah mengajarkan ummatnya untuk bisa memahami arti hidup yang sebenarnya, yaitu untuk beribadah kepadaNya, bukan untuk foya-foya atau menghabiskan harta benda. Karena pada hakekatnya, hidup di bumi ini hanyalah sementara, masih ada satu kehidupan lagi yang lebih kekal di sana. Dan tentunya, Islam juga telah menawarkan berbagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Semuanya telah tertulis di kitab suci al-Qur'an, tinggal bagaimana kita menggunakannya.

Permasalahan-permasalahan yang begitu kompleks akan selalu mengiringi kehidupan manusia. Dan semestinya manusia bisa mengambil hikmahnya, bukan malah lari darinya. Seharusnya manusia bisa menghadapinya dengan lapang dada, bukan malah berpaling darinya. Semuanya adalah realita dan ada banyak cara positif yang bisa digunakan untuk menghadapinya.

Mungkin dengan senyuman semua permasalahan akan menjadi mudah diselesaikan. Dengan senyuman semua menjadi mudah. Setidaknya untuk melepaskan semua beban pikiran yang selalu ada dan ia tidak akan pernah habis sejalan dengan waktu yang selalu berdetak maju.

Smile up! Then the world smiles for you.
Tersenyumlah! Maka dunia, akan tersenyum kepadamu.





Inget pesen guruku dulu...

Terima kasih guru
Kau memang idolaku
Pesanmu membuatku tegar
Bukan malah gemetar
*
190208

Selengkapnya...

Hari Ini, Hari Kita

Wahai sahabat...
Tidakkah kau sadari
Betapa umur kita sangatlah pendek
Maka gunakanlah sebaik mungkin

Wahai sahabat...
Tidakkah kau sadari
Waktu sangatlah cepat berdetak
Maka takutlah akan kehilangannya

Hari ini adalah hari kita
Janganlah kau pikirkan hari kemarin
yang berlalu dengan segala
kebaikan dan keburukkannya

Hari ini adalah hari kita
Janganlah kau pikirkan hari esok
yang belum datang kepadamu
hingga ia mendatangimu

Berapa banyak orang merugi
Karena kehilangan hari ini
Berapa banyak orang bersedih
Karena kehilangan hari ini
Berapa banyak orang menangis
Karena kehilangan hari ini

Hari ini adalah hari kita
Lupakan hari kemarin
Lupakan hari esok
Karena hari ini
Takkan kau jumpai lagi
Untuk kedua kali

Termasuk orang bijak...
ialah orang yang menghargai
hari ini
*






Kairo, Menunggu Terbitnya Sang Mentari Pagi
03:28. 25 Jan 2008

Selengkapnya...

He's The One

Kala mentari terbit di ufuk timur
Sinarnya menerangi alam semesta
Dan tak seorangpun yang mau
bertafakkur akan kebesaranNya

Kala gelap datang menyelimuti malam
Seluruh alam tidur terlelap
Dan tak seorangpun yang mau
sujud bertobat atas segala khilaf

Angkuh makin merasuki jiwa
merusak segala yang ada
dalam raga tiap manusia
tanpa ada yang tersisa
dalam dirinya

Takabbur makin membuat buta
semua anak manusia
yang takkan pernah sadar
akan kekurangan dirinya

Apakah kau tidak menyadarinya
seluruh alam semesta berada
dalam kuasa dan perintahNya
dan hanya Ia yang bisa
merubah segalanya

Dialah Tuhan Yang Maha Esa
*




In The End of 1st Term Examination
22 Jan 2008

Inspired by She's The One
Robbie William's song

Selengkapnya...

Harga Diri

Ku meniti tiap detik hari
Tuk menemukan harga diri
yang hilang ditelan kegelapan malam
bersama kesunyian

Arrggh...
Dimanakah harga diriku
Ku tak rela malam menggerogotinya
Hanya karna nafsu duniawi belaka

Tuhan...
Apakah engkau tega
Membiarkan harga diri ini
Dalam kenistaan hina...?
*





Ruang Ujian Muhammad Husein al-Dzahabi
Al-Azhar University
19 Jan 2008

Selengkapnya...

Never Surrender

Sudah hampir setengah bulan ini kujalani hari-hariku dengan ujian semester pertama. Pusing dan bahkan stres selalu menghinggapi perasaanku tiap kali mendekati hari ujian. Buku diktat kuliah yang masih tertumpuk di atas rak buku seolah meneriakiku meminta jatahnya untuk dibaca. Bahkan ia seakan memarahiku karena masih bersih seperti pertama kali aku membelinya. Sungguh naif, padahal ujian tinggal beberapa hari saja, dan aku masih terlihat santai menghadapinya.

Terkadang aku iri melihat beberapa teman-temanku yang rajin belajar, bahkan ada dari mereka yang sudah mengkhatamkan bacaan bukunya lebih dari sekali. Sedangkan aku, sekali khatam saja aku sangat bersyukur. Kelihatannya hatiku sudah tidak mempan lagi untuk menerima omongan orang lain. Sepertinya hatiku sudah tertutup pintunya untuk semua nasehat dan saran dari sahabat. Meskipun begitu, jauh di dalam lubuk hati dan nuraniku, masih ada ruang untuk bisa memahami dan mengerti akan pentingnya menerima saran serta pendapat orang lain yang ada di sekitarku. Ternyata masih ada yang peduli dengan keadaanku saat ini. Keadaan yang jauh lebih buruk dari aku yang dulu. Aku yang selalu memperhatikan orang lain. Aku yang selalu terbuka untuk semua nasehat dari sahabat. Dan aku yang selalu menjadi tempat untuk bercuhat. Keadaanku saat ini sangat berubah seratus delapan puluh derajat.

Arrgghh...! Sudahlah...! Aku tak mau menyesali diriku sendiri. Di hadapanku sekarang adalah ujian semester pertama yang menyisakan dua pelajaran lagi. Aku tak mau mengulangi cara belajar burukku yang kemarin. Aku tak mau mengulangi kesalahanku yang lalu. Dan aku akan selalu mengingat saran nasehat dari sahabat.

Untuk ujian yang akan kuhadapi esok...
I won't put my hands up...
And surrender...







Confusing myself...
A Few Minute Before Sunrise...
04:13, 19 Jan 2008


Selengkapnya...

Jejak Kata


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

INDONESIA BLOG DIRECTORY