Imam Syafi'i

Sejarah Singkat Sang Pembela Sunnah

A. Kelahiran dan Nasab Imam Syafi’i

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau yang lebih dikenal dengan Imam Syafi’i. Beliau dilahirkan di Ghaza (sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir, tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota ‘Asqalan sekitar dua farsakh) pada hari Jum’at siang, akhir Bulan Rajab tahun 150 H. Nasab beliau secara lengkap adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah SAW karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Ayah beliau yang bernama Idris termasuk orang yang tidak mempunyai apa-apa, ia tinggal di Kota Tibalah (suatu daerah di wilayah Tihamah, jalan menuju Yaman) kemudian pindah ke Kota ‘Asqalan hingga wafat di sana. Sedangkan nama Syafi’i, diambil dari nama kakek dari kakek beliau yang bernama Syafi’, yang mana beliau termasuk sahabat Rasulullah SAW. Para sejarawan dan ulama nasab serta ahli hadits sepakat bahwa Imam Syafi’I berasal dari keturunan arab murni. Bahkan Imam Bukhari dan Muslim telah memberikan kesaksian mereka akan kebenaran nasab beliau dan ketersambungannya dengan nasab Rasulullah SAW. Kesaksian ini membantah akan pernyataan sebagian kelompok dari Malikiyyah dan Hanafiyyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i bukan asli keturunan Quraisy secara nasab, melainkan hanya keturunan secara Wala’ saja.

Sedangkan ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya, ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Fathimah binti Abdillah dan masih keturunan Ali bin Abi Thalib. Adapula yang mengatakan bahwa ibu beliau berasal dari kabilah Azadiyah yang bergelar Ummu Habibah. Namun demikian, Imam Nawawi menegaskan bahwa ia termasuk wanita ahli ibadah dan paham tentang agamanya serta pandai dalam mengambil suatu istinbath.

B. Masa Pertumbuhan Imam Syafi’i

Semenjak kecil, Imam Syafi’i hidup dengan rasa keingintahuannya terhadap ilmu agama. Ketika baru berumur dua tahun, beliau diajak pergi menuju Mekkah oleh ibunya. Sesampainya di Mekkah, beliau melihat Ka’bah dan telah berkumpul di sekelilingnya beberapa ulama fiqih, ahli hadits, dan beberapa pemikir pada masa itu. Di sana, beliau diserahkan oleh sang ibu kepada seorang guru untuk belajar menuntut ilmu. Sang gurupun menerima beliau dengan senang walaupun ia tidak diberi imbalan sepeserpun sebagai upah mengajar, karena ia tahu tingkat kepintaran dan pemahaman beliau yang cepat. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau mampu menghapal al-Quran ketika berumur tujuh tahun, dan dapat membaca serta menghapal semua isi kitab al-Muwaththo’ karangan Imam Malik pada umur dua belas tahun, padahal ketika itu beliau belum pernah bertemu Imam Malik secara langsung, dan ketika berumur lima belas tahun, beliau sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh guru beliau Muslim bin Khalid az-Zanji. Beliau juga sering menghadiri halaqoh ilmiyah dan bertemu dengan para ulama untuk mempelajari beberapa masalah agama. Beliau menulis semua apa yang didengarnya di atas tulang-tulang yang bila sudah penuh dan banyak, dimasukkan ke dalam karung.

Pada awal mula beliau belajar, beliau sangat menyukai ilmu bahasa seperti Balaghah dan sya’ir, sehingga beliau hafal sya’ir-sya’ir suku Hudzail. Bahkan, beliau sempat berinteraksi dengan mereka selama 10 hingga 20 tahun. Banyak bait-bait sya’ir yang beliau hafal dari orang-orang suku Hudzail selama berinteraksi bersama mereka. Kapasitas keilmuan beliau dalam bahasa ‘Arab juga tidak dapat diragukan lagi, bahkan seorang imam bahasa ‘Arab, al-Ashmu’i mengakui hal tersebut dan mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepada beliau. Dalam ilmu hadits, beliau belajar dengan Imam Malik dengan membaca langsung kitab al-Muwaththo` dari hafalannya sehingga membuat sang imam terkagum-kagum. Di samping itu, beliau juga belajar berbagai disiplin ilmu sehingga memiliki guru yang banyak.

C. Karya-karya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i hidup tidak kurang dari setengah abad, namun beliau sangat kaya akan karya-karya beliau yang sampai saat ini masih bermanfaat bagi umat manusia. Beliau tidak berdiam di satu tempat saja, tetapi selalu bepergian untuk menggali ilmu dari para ulama terdahulu. Ketika berbicara tentang karya beliau, Ibnu Zaulaq menyatakan bahwa karya beliau mencapai dua ratus buah. Imam al-Marwazy menambahkan, “Imam Syafi’I mengarang lebih dari 113 kitab yang terdiri dari kitab tafsir, fiqih, sastra dll.”

Namun, dari sekian banyak karya beliau, Kitab al-Umm sangat dikenal banyak orang, terlebih oleh para pengikut ajaran beliau. Kitab ini adalah sebuah ensiklopedia fiqih islam yang mencakup ajaran-ajaran mazhab Syafi’i. Beliau mengarang kitab ini ketika berdiam di Mesir setelah mengadakan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu. Kitab ini juga mencakup pemikiran-pemikiran beliau semasa hidup. Dalam perumusan kitab ini, Imam Syafi’i mengambil cara yang dipakai oleh Abu Hanifah. Abu Hanifah memulai kitabnya dengan bab Thaharah, begitu juga dengan Imam Syafi’i di Kitab al-Umm.

D. Sakit dan Wafatnya Imam Syafi’i

Kesibukan Imam Syafi’i dalam berda’wah membuat beliau menderita penyakit wasir yang selalu mengeluarkan darah. Hal ini diderita beliau selama setahun. Dan pada akhirnya beliau wafat pada malam Jum’at setelah shalat Isya’, hari terakhir bulan Rajab tahun 204 H dalam usia 54 tahun. Hingga kini makam beliau di daerah Sayyidah ‘Aisyah Mesir selalu ramai dikunjungi para peziarah dari dalam dan luar kota, khususnya pada hari Jum’at. Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima segala amalan-amalannya semasa hidup serta memberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Amien[nerameazza]

Kairo, 7 Juli 2007

0 comments:

Jejak Kata


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

INDONESIA BLOG DIRECTORY